Salon dan beras...
Kali ini aku ngutip artikel yg tadi pagi baru dapet dari emailnya Cak Mboel.
Salon dan Beras - Beda di Belanda & Indonesia
Jan 26, '06 1:36 AM ETby AbiMela for everyone
Mengapa Salon tak Pernah Sepi?
Jakarta, KCM 24 Jan 2006
Tidak usah heran bila harga beras mahal. Di Belanda pun harganya mahal. Bedanya, di
Belanda makanan pokok dijual luarbiasa murahnya.
Lucu memang, beras kebutuhan utama tapi mendapatkannya kok sulit. Harga beras di Belanda juga selangit. Tidak aneh, sebab bukan merupakan makanan utama dan jelas barang impor.
Pemakan beras juga lebih banyak bangsa-bangsa pendatang yang memang dari sononya terbiasa makan beras. Sementara makanan pokok di Belanda sendiri kentang dan roti. Sampai sekarang belum sekalipun terbaca atau terdengar di media massa persoalan pelik menyangkut kentang maupun roti di negeri ini. Entah perdebatan harga, kebijakan pemerintah, apalagi stok kentang dan roti sampai hilang di pasaran.
Mau tahu berapa harga kentang dan roti? Belum sampai satu euro sudah bisa bawa pulang kentang dan roti seabrek-abrek. Rakyat tidak pernah membahas isu kelaparan (paling tidak begitu sampai hari ini). Petani kentang tak pernah mengeluh panen gagal, harga pupuk mahal dan segala tetek bengek lain yang bikin susah. Tukang roti tak bakal menggerutu harga tepung atau bahan dasar roti membubung.
Lalu kenapa di Indonesia justru mendapatkan kebutuhan pokok begitu sulit?
Sedikit melenceng. Saat menemani teman jalan-jalan di negeri tulip ini, tiba-tiba dia berkomentar setelah melewati beberapa salon kecantikan. Kenapa salon sepi-sepi saja.
Sementara kalau di Indonesia, salon hampir ada di tiap sudut dan selalu ramai. Harus
nunggu pula sebelum diladeni. Ada saja kegiatan di salon berjam-jam. Sekedar potong poni, creambath, ganti warna rambut, meluruskan atau mengeriting, lulur, facial bahkan iseng kikir-kikir kuku dan kaki.
Katanya lagi, dia saja kalau malas keramas di rumah langsung ke salon. Enak duduk tenang, dipijit dan keluar sedikit lebih segar dan cantik. Saya tidak heran karena juga pernah mengalami kehidupan serupa. Tapi selama di Belanda.. wow.. nanti dulu. Belum tentu dalam 5 bulan saya menginjak salon. (kasihan ya…!) Ada undangan atau harus manggung pun berusaha dandan sendiri sebab urusan salon perlu merogoh kocek sampai dalam. Tidak seperti di Indonesia begitu banyak pilihan pelayanan dan harga.
Beberapa teman Belanda sendiri seringkali bikin janji rahasia sama tukang pangkas supaya dilayani di rumah saja. Bisa bayar lebih murah dan keuntungan pula buat si pekerja. Dapat uang ekstra tanpa dipotong pajak. Kalau cuma potong rambut anak-anak dengan model standard, rata-rata orang tua melakukan sendiri. Mereka punya peralatan potong rambut.
Atau informasi lewat teman-teman yang ahli potong, bolehlah saling bantu. Artinya, secara umum tidak begitu saja dengan mudah merogoh kocek sekedar ke salon.Meski ada juga teman lain kerjanya bolak-balik ke salon ganti warna rambut, ngecat kuku dan lain-lain.
Teman saya yang berlibur tadi mensyukuri dirinya tinggal di Indonesia karena bisa sering ke salon demi memanjakan tubuh. Saya katakan, "Tapi di Belanda orang tidak pernah mengeluh kelaparan."
"Apa hubungannya salon dan lapar," katanya spontan dan melotot.
"Sekadar hubungan kebutuhan hidup dan gaya hidup,"
jawab saya santai meski keder juga lihat biji matanya seperti mau keluar.
Di Belanda, orang tahu persis mana kebutuhan hidup dan gaya hidup. Di negeri kita
sebaliknya. Banyak yang sulit (atau pura-pura tak tak perduli) membedakan mana gaya hidup dan kebutuhan hidup. Di negeri ini salon merupakan gaya hidup, makanya mahal. Tapi bahan makanan merupakan kebutuhan hidup sehingga harganya terjangkau. Orang bisa mati kalau tidak makan, tapi tidak akan ada yang terkapar biar rambutnya mencapai mata kaki atau kukunya hitam dan wajah tidak akan berubah jadi monster meski tidak di facial sebulan sekali.
Sebaliknya di tanah air, salon kecantikan sudah berubah fungsi. Entah itu demi alasan menunjang karir, sekedar memanjakan tubuh dan segala macam. Jadi lekat dengan kebutuhan, bukan lagi gaya hidup semata. Makanya murah dan terjangkau sebab para produsen berlomba menarik pelanggan. Sedangkan makan perlahan bergeser jadi gaya hidup.
"Ah...,kamu terlau sinis," protesnya dengan wajah lebih kusut dari sebelumnya.
"Barangkali memang saya sinis. Lalu jawab dong kenapa harga beras bisa mahal," pinta saya lembut.
"Itu salah pemerintah juga, Tidak perduli nasib rakyat, juga tidak ada subsidi. Bukan
karena orang banyak ke salon," katanya ketus.
Dalam hati ini berteriak, "Saya juga tidak bilang karena banyak orang ke salon. Sekedar gambaran membedakan kebutuhan hidup dan gaya hidup.
Dan masih banyak gambar selain salon. Ah.. bisa jadi gambaran saya memang keliru ya..
he.he.he."
Lalu kenapa orang begitu sumringah, rela bayar mahal untuk fast food bahkan merasa lebih berkelas. Padahal di negara asal merupakan konsumsi rakyat bawah karena murah dan cepat. (tak usah dulu bicara soal gizi buruk). Buruh-buruh yang jam istirahat siangnya pendek terpaksa makan junk food alias cepat saji yang murah dan cepat tadi. Sebaliknya di negeri kita tercinta, fast food jadi gaya hidup mewah.
Simak pula di restoran seperti apa sepiring spaghetti atau pizza disajikan? Mewah dan
mahal tentu saja. Sementara di Italia sendiri ’warung’ pizza dan spaghetti tidak istimewa.
Lagi-lagi karena makanan impor, wajar bila mahal. Di Eropah merupakan menu harian, jadi tidak mahal juga wajar.
Lalu mau bilang apa bila menikmati menu ala Eropah tadi jadi ada yang merasa lebih gaya ?
Karena mahal ? Dan yang dibayar tidak semata rasa makanannya, tapi juga suasananya.
Gara-gara lihat saya di Belanda kalau baru gajian makan nasi dan saat mulai bokek makan kentang, spaghetti, steak dan segala jenis makan Eropa lain yang murah, banyak dan
kenyang, teman saya ngotot lagi.
Kalau di Indonesia makanan Eropah mahal wajar saja, sebab makanan Indonesia di negeri orang juga begitu. Dalam hati sebenarnya tidak lagi mempersoalkan harga, tapi ketika makanan sudah jadi ’gaya’ hidup, bukan kebutuhan. Namun melihat gelagat teman yang kebarat-baratan ini makin emosi, terpaksa menahan diri.
Persoalannya sekarang yang mengganjal pikiran, kenapa orang Eropa makan nasi yang nota bene barang impor dan mahal merasa biasa-biasa saja. Tidak lantas menganggap diri lebih
keren dari warga lain yang tetap makan kentang. Ah…sudahlah.., semua toh cuma sebuah pilihan. Silahkan putuskan harus pakai gaya apa. Semua sah saja.
Nah yang ganjil kenapa beras, makanan pokok bangsa sudah berabad bisa mahal dan sulit di dapat ya……? Apa barangkali makan beras sudah jadi gaya hidup pula. Bukan lagi kebutuhan hidup?
Mohon maaf, hanya bertanya lho tanpa ada keberpihakan.
(Ita Sembiring, ibu rumah tangga, tinggal di Belanda)
Salon dan Beras - Beda di Belanda & Indonesia
Jan 26, '06 1:36 AM ETby AbiMela for everyone
Mengapa Salon tak Pernah Sepi?
Jakarta, KCM 24 Jan 2006
Tidak usah heran bila harga beras mahal. Di Belanda pun harganya mahal. Bedanya, di
Belanda makanan pokok dijual luarbiasa murahnya.
Lucu memang, beras kebutuhan utama tapi mendapatkannya kok sulit. Harga beras di Belanda juga selangit. Tidak aneh, sebab bukan merupakan makanan utama dan jelas barang impor.
Pemakan beras juga lebih banyak bangsa-bangsa pendatang yang memang dari sononya terbiasa makan beras. Sementara makanan pokok di Belanda sendiri kentang dan roti. Sampai sekarang belum sekalipun terbaca atau terdengar di media massa persoalan pelik menyangkut kentang maupun roti di negeri ini. Entah perdebatan harga, kebijakan pemerintah, apalagi stok kentang dan roti sampai hilang di pasaran.
Mau tahu berapa harga kentang dan roti? Belum sampai satu euro sudah bisa bawa pulang kentang dan roti seabrek-abrek. Rakyat tidak pernah membahas isu kelaparan (paling tidak begitu sampai hari ini). Petani kentang tak pernah mengeluh panen gagal, harga pupuk mahal dan segala tetek bengek lain yang bikin susah. Tukang roti tak bakal menggerutu harga tepung atau bahan dasar roti membubung.
Lalu kenapa di Indonesia justru mendapatkan kebutuhan pokok begitu sulit?
Sedikit melenceng. Saat menemani teman jalan-jalan di negeri tulip ini, tiba-tiba dia berkomentar setelah melewati beberapa salon kecantikan. Kenapa salon sepi-sepi saja.
Sementara kalau di Indonesia, salon hampir ada di tiap sudut dan selalu ramai. Harus
nunggu pula sebelum diladeni. Ada saja kegiatan di salon berjam-jam. Sekedar potong poni, creambath, ganti warna rambut, meluruskan atau mengeriting, lulur, facial bahkan iseng kikir-kikir kuku dan kaki.
Katanya lagi, dia saja kalau malas keramas di rumah langsung ke salon. Enak duduk tenang, dipijit dan keluar sedikit lebih segar dan cantik. Saya tidak heran karena juga pernah mengalami kehidupan serupa. Tapi selama di Belanda.. wow.. nanti dulu. Belum tentu dalam 5 bulan saya menginjak salon. (kasihan ya…!) Ada undangan atau harus manggung pun berusaha dandan sendiri sebab urusan salon perlu merogoh kocek sampai dalam. Tidak seperti di Indonesia begitu banyak pilihan pelayanan dan harga.
Beberapa teman Belanda sendiri seringkali bikin janji rahasia sama tukang pangkas supaya dilayani di rumah saja. Bisa bayar lebih murah dan keuntungan pula buat si pekerja. Dapat uang ekstra tanpa dipotong pajak. Kalau cuma potong rambut anak-anak dengan model standard, rata-rata orang tua melakukan sendiri. Mereka punya peralatan potong rambut.
Atau informasi lewat teman-teman yang ahli potong, bolehlah saling bantu. Artinya, secara umum tidak begitu saja dengan mudah merogoh kocek sekedar ke salon.Meski ada juga teman lain kerjanya bolak-balik ke salon ganti warna rambut, ngecat kuku dan lain-lain.
Teman saya yang berlibur tadi mensyukuri dirinya tinggal di Indonesia karena bisa sering ke salon demi memanjakan tubuh. Saya katakan, "Tapi di Belanda orang tidak pernah mengeluh kelaparan."
"Apa hubungannya salon dan lapar," katanya spontan dan melotot.
"Sekadar hubungan kebutuhan hidup dan gaya hidup,"
jawab saya santai meski keder juga lihat biji matanya seperti mau keluar.
Di Belanda, orang tahu persis mana kebutuhan hidup dan gaya hidup. Di negeri kita
sebaliknya. Banyak yang sulit (atau pura-pura tak tak perduli) membedakan mana gaya hidup dan kebutuhan hidup. Di negeri ini salon merupakan gaya hidup, makanya mahal. Tapi bahan makanan merupakan kebutuhan hidup sehingga harganya terjangkau. Orang bisa mati kalau tidak makan, tapi tidak akan ada yang terkapar biar rambutnya mencapai mata kaki atau kukunya hitam dan wajah tidak akan berubah jadi monster meski tidak di facial sebulan sekali.
Sebaliknya di tanah air, salon kecantikan sudah berubah fungsi. Entah itu demi alasan menunjang karir, sekedar memanjakan tubuh dan segala macam. Jadi lekat dengan kebutuhan, bukan lagi gaya hidup semata. Makanya murah dan terjangkau sebab para produsen berlomba menarik pelanggan. Sedangkan makan perlahan bergeser jadi gaya hidup.
"Ah...,kamu terlau sinis," protesnya dengan wajah lebih kusut dari sebelumnya.
"Barangkali memang saya sinis. Lalu jawab dong kenapa harga beras bisa mahal," pinta saya lembut.
"Itu salah pemerintah juga, Tidak perduli nasib rakyat, juga tidak ada subsidi. Bukan
karena orang banyak ke salon," katanya ketus.
Dalam hati ini berteriak, "Saya juga tidak bilang karena banyak orang ke salon. Sekedar gambaran membedakan kebutuhan hidup dan gaya hidup.
Dan masih banyak gambar selain salon. Ah.. bisa jadi gambaran saya memang keliru ya..
he.he.he."
Lalu kenapa orang begitu sumringah, rela bayar mahal untuk fast food bahkan merasa lebih berkelas. Padahal di negara asal merupakan konsumsi rakyat bawah karena murah dan cepat. (tak usah dulu bicara soal gizi buruk). Buruh-buruh yang jam istirahat siangnya pendek terpaksa makan junk food alias cepat saji yang murah dan cepat tadi. Sebaliknya di negeri kita tercinta, fast food jadi gaya hidup mewah.
Simak pula di restoran seperti apa sepiring spaghetti atau pizza disajikan? Mewah dan
mahal tentu saja. Sementara di Italia sendiri ’warung’ pizza dan spaghetti tidak istimewa.
Lagi-lagi karena makanan impor, wajar bila mahal. Di Eropah merupakan menu harian, jadi tidak mahal juga wajar.
Lalu mau bilang apa bila menikmati menu ala Eropah tadi jadi ada yang merasa lebih gaya ?
Karena mahal ? Dan yang dibayar tidak semata rasa makanannya, tapi juga suasananya.
Gara-gara lihat saya di Belanda kalau baru gajian makan nasi dan saat mulai bokek makan kentang, spaghetti, steak dan segala jenis makan Eropa lain yang murah, banyak dan
kenyang, teman saya ngotot lagi.
Kalau di Indonesia makanan Eropah mahal wajar saja, sebab makanan Indonesia di negeri orang juga begitu. Dalam hati sebenarnya tidak lagi mempersoalkan harga, tapi ketika makanan sudah jadi ’gaya’ hidup, bukan kebutuhan. Namun melihat gelagat teman yang kebarat-baratan ini makin emosi, terpaksa menahan diri.
Persoalannya sekarang yang mengganjal pikiran, kenapa orang Eropa makan nasi yang nota bene barang impor dan mahal merasa biasa-biasa saja. Tidak lantas menganggap diri lebih
keren dari warga lain yang tetap makan kentang. Ah…sudahlah.., semua toh cuma sebuah pilihan. Silahkan putuskan harus pakai gaya apa. Semua sah saja.
Nah yang ganjil kenapa beras, makanan pokok bangsa sudah berabad bisa mahal dan sulit di dapat ya……? Apa barangkali makan beras sudah jadi gaya hidup pula. Bukan lagi kebutuhan hidup?
Mohon maaf, hanya bertanya lho tanpa ada keberpihakan.
(Ita Sembiring, ibu rumah tangga, tinggal di Belanda)
8 Comments:
Hehehe...setujuw deh..orang kita keknya masih cenderung ninggin gengsi dan prestis..sebenarnya sikap ini yang mesti kita ubah kalo kita mo maju..Kek banyak juga orang yang ngadain party perkawinan tapi sampe ngutang sana sini..kan ngga logis tuh..ya kan mba miniez?
By
Greiche Gege, at 6:33 AM
Miniez,
Tentang salon...eh..benar loh, karena mau Sin Cia, biar baru luar dalam, barusan saya memutuskan untuk memperpendek rambutku 2cm dari punggung + keramas basa basi dan blow asal, cuma dua puluh menit!!!!Alamakkk...biayanya 40 euro.
Kalo di Indonesia uang segitu bisa dapat mandi lulur, pijat, masker seluruh tubuh, ratus wangi, medi pedi, facial, creambath, dilayani dari pagi hingga petang, masih ada lebihnya buat tips & makanan ringan :)
Masalah beras, Puji Tuhan...Kebetulan daerah ini adalah penghasil beras utama di Perancis, malah bulan September setiap tahun ada fesival Féte du Riz di sini...so...saya tetap bisa makan nasi meskipun tidak tiap hari, karena...walaupun tinggal dinegeri keju...perutku tetap perut Indonesia... *buka rahasia*
By
Sisca, at 8:20 AM
suami saya juga makan beras..eh nasi. kalo anak tiri, gak suka. cuma kita paksa hahaha...abis aku gak bisa masak makanan bule, sapa suruh kawin ama orng indo toh ? hihihi
By
Innuendo, at 10:46 AM
Niez..gw comment buat elo en Ita dunk yah..;)
Buat gw sih makan duluuuu..(eh tp sekarang jg lagi dieet, gimana donk? :D)
Makan nasi itu kebutuhan gw..perut gw nih yg nepsong kalo liat nasi ngepul yg pulen2x..kekekekk
Tar dulu serius ah..Nyokap selalu bilang ke kita2x..zolang je kunt eten, moet je eten..kalo kamu masih bisa makan, makanlah..
Kalo soal kapsalon..waduh bangkrut gw apabila sering2x ngendon disana..Biarin deh rambut gw panjang terus..kekekek..murah kan gak usah sering2x ke kapper :)
By
Anonymous, at 12:01 PM
gege : adat bangsa indonesia ada baiknya koq. karena kita diajarkan untuk selalu memberi. biar ngutang sana sini asal ngga ngecewain tamunya. tapi buntutnya itu lho...nyicil utang sama bunganya,..
pusing ndiri !!!
sisca : boros ya kalo mau potong. udah kehilangan rambut masih kudu bayar.
septemberan kita ke sana yach, ikut panen padi.
wien2 : ada kapster langganan tuh, bayarnya 10 euro. kalo mau, tiap 6 minggu sekali kamu ke bxtl.
dian : nasi gak doyan, coba toh risotto apa lontong. sama aja bahan bakunya. kali mau...
yulia : kamu manjangin rambut biar maik rajin ngelus2 yach.
By
Theresia Maria, at 12:09 PM
Bingung mau komentar apa ya...
Gini, saya makan nasi di negeri pasta hampir tiap hari karena kalo makan pasta atau pizza lebih dari dua kali dalam seminggu, saya apalagi suami merasa bosen..jadi bukan karena gengsi lho ya...
Kalau ke salon memang hampir gak pernah, sayang duite..mendingan buat beli beras..lho piye tho..
By
tari, at 1:28 PM
Serius nih cuman 10 euro buat potong rambut??? Aku ke tempatmu aja deh!! Tapi itung2 transportnya yaa... tekor juga :)) hahaha...
Yul, kalo murah sih ya kaal aja. Bener2 irit tuh. Hihihihi... "kabuuuur.."
By
SinceYen, at 1:40 PM
tari : gimana bikin risotto yg enak mbak, minta resepnya donk.
since : bener ! ada juga yg 5 euro, tapi gantian kita mijitin yg tukang potong, hehehe...
By
Theresia Maria, at 5:56 AM
Post a Comment
<< Home