Anak ke 15....
Entah yg keberapakalinya aku sudah bersihkan lantai, tapi ada saja yg kutemukan belakangan. Remahan roti, chips, butiran2 nasi yg setengah terinjak, remahan kue, sobekan kertas, rambut2 plastik dari boneka princess, dan entah apa lagi yg nanti bakalan kubersihkan. Tiap kali kutegur, Noni hanya menatap tak bersalah. Mungkin dalam hatinya berkata; " Ini sudah resikomu, mam. Tugasku sebagai anak hanya bermain....."
Betul sekali anakku, kau uji kesabaran dan tanggungjawabku sebagai ibu. Aku menghela nafas.....hhmmhh.....
Kuingat lagi tontonan tadi malam di tv. Keluarga di Inggris yg memiliki 15 anak, mereka asuh sendiri tanpa minta bantuan babysitter, atau pembantu, atau ibu/mertua, tanpa siapapun. Anak tertua berusia 23 tahun, anak yg ke 15 usianya masih dibawah setahun. Aku cuma bisa geleng2 kepala. Hebat sekali orangtua ini, mereka tidak mengeluh. Bahkan tersirat kebahagiaan, terlihat arif, tenang, dan wajah2 mereka berseri. Saat ditanya, apa asal mula mereka punya keluarga besar ini. Jawab sang istri, aku anak tunggal dan sering kesepian. Ibuku lebih suka meninggalkan aku sendirian bermain ditaman, sementara dia pergi ke kafe untuk minum dan merokok. Sampai disitu, aku kembali geleng2 kepala, koq ada ibu yg tega melakukan seperti ini, egois sekali membiarkan anaknya terlantar.
Lalu sang suami menambahkan, bahwa mereka punya planning untuk punya 4 anak saja maksimal. Tapi rencana tinggal rencana. Suami mendukung saja bila istri ingin hamil lagi. Dengan resiko bahwa suami harus kerja siang malam untuk finansialnya. Walaupun dapat tunjangan dari pemerintah per anak, tapi toh semua habis hanya untuk makan.
Kembali ke cerita istri; tiap hari aku antar 10 anak ke sekolah, anak2 yg agak besar bisa naik bus antar jemput. Tiap hari masukin cucian di mesin sampai 10 kali mutar. Nyetrika bisa 3 jam/hari. Mesin pengering yg lama rusak belum bisa diganti, jadi harus dijemur di luar tiap hari. O la la !!! Suami menambahkan kalau anak2nya justru bisa mandiri, yang besar ikut mengasuh adik2nya. Juga soal merapikan kamar, dan pakai baju juga sendiri. Aku makin terbeliak melihat rumah mereka. Tidak begitu besar sebenarnya, terdiri dari kamar orang tua, kamar anak perempuan tertua, kamar anak laki tertua (pakai bekas garasi), kamar biru untuk anak2 laki yg lain, dan kamar pink buat anak2 perempuan sisanya. Mereka rukun dan tidak ada yg nakal, aku makin heran. Huebat, bok !!! Hanya kedengaran suara2 berceloteh yg menghiasi wawancara pasutri ini. Anak2 tidak ada yg mendapat uang saku, dan tidak ada yg protes. Kecuali uang ekstra kalo mereka bantu bersih2 rumah, bantu cuci mobil, atau kerja rumahan yg lain. Aku geleng2 kepala buat yg terakhir kali saat interview berakhir. Kuhela nafas dengan berat. Fyuuhh...nggak bisa kubayangkan deh. Aku masih punya anak satu saja masih sok repot. Yang jelas, aku nggak bakalan jadi ibu dari 15 anak. No way !!!...
Betul sekali anakku, kau uji kesabaran dan tanggungjawabku sebagai ibu. Aku menghela nafas.....hhmmhh.....
Kuingat lagi tontonan tadi malam di tv. Keluarga di Inggris yg memiliki 15 anak, mereka asuh sendiri tanpa minta bantuan babysitter, atau pembantu, atau ibu/mertua, tanpa siapapun. Anak tertua berusia 23 tahun, anak yg ke 15 usianya masih dibawah setahun. Aku cuma bisa geleng2 kepala. Hebat sekali orangtua ini, mereka tidak mengeluh. Bahkan tersirat kebahagiaan, terlihat arif, tenang, dan wajah2 mereka berseri. Saat ditanya, apa asal mula mereka punya keluarga besar ini. Jawab sang istri, aku anak tunggal dan sering kesepian. Ibuku lebih suka meninggalkan aku sendirian bermain ditaman, sementara dia pergi ke kafe untuk minum dan merokok. Sampai disitu, aku kembali geleng2 kepala, koq ada ibu yg tega melakukan seperti ini, egois sekali membiarkan anaknya terlantar.
Lalu sang suami menambahkan, bahwa mereka punya planning untuk punya 4 anak saja maksimal. Tapi rencana tinggal rencana. Suami mendukung saja bila istri ingin hamil lagi. Dengan resiko bahwa suami harus kerja siang malam untuk finansialnya. Walaupun dapat tunjangan dari pemerintah per anak, tapi toh semua habis hanya untuk makan.
Kembali ke cerita istri; tiap hari aku antar 10 anak ke sekolah, anak2 yg agak besar bisa naik bus antar jemput. Tiap hari masukin cucian di mesin sampai 10 kali mutar. Nyetrika bisa 3 jam/hari. Mesin pengering yg lama rusak belum bisa diganti, jadi harus dijemur di luar tiap hari. O la la !!! Suami menambahkan kalau anak2nya justru bisa mandiri, yang besar ikut mengasuh adik2nya. Juga soal merapikan kamar, dan pakai baju juga sendiri. Aku makin terbeliak melihat rumah mereka. Tidak begitu besar sebenarnya, terdiri dari kamar orang tua, kamar anak perempuan tertua, kamar anak laki tertua (pakai bekas garasi), kamar biru untuk anak2 laki yg lain, dan kamar pink buat anak2 perempuan sisanya. Mereka rukun dan tidak ada yg nakal, aku makin heran. Huebat, bok !!! Hanya kedengaran suara2 berceloteh yg menghiasi wawancara pasutri ini. Anak2 tidak ada yg mendapat uang saku, dan tidak ada yg protes. Kecuali uang ekstra kalo mereka bantu bersih2 rumah, bantu cuci mobil, atau kerja rumahan yg lain. Aku geleng2 kepala buat yg terakhir kali saat interview berakhir. Kuhela nafas dengan berat. Fyuuhh...nggak bisa kubayangkan deh. Aku masih punya anak satu saja masih sok repot. Yang jelas, aku nggak bakalan jadi ibu dari 15 anak. No way !!!...
2 Comments:
hai...pa kabar? met wiken yah GBU.
By
Vivie, at 9:11 AM
baek, Vie. Thx. nice weekend juga yach. GBU too.
By
Theresia Maria, at 9:16 AM
Post a Comment
<< Home