Tuesday, November 29, 2005

My father


Siang, aku tertidur disamping Noni. Tadi malam nunggu kepulangan Erik, tengah malam tepatnya. Jadinya ngantuk banget.
3 jam kemudian aku terbangun, oh...ngimpi bapakku. Lagi gendong Elmo, keponakanku. Aku sediakan minum teh buat beliau. Teh manis yg hangat. Kenapa ya ? Apa aku rada homesick ? No matter what, aku seneng ketemu bapak biar cuman mimpi. Beliau yg jadi panutan di dalam keluarga kami, dan panutan juga buat orang2 di luar rumah. Dalam usianya yg ke 70 tahun, beliau terpilih jadi RT, lagi. Dimanapun kami tinggal, di kampung Menjangan beliau bertahun-tahun jadi RW, terus pindah ke Graha Mukti dipilih jadi RT, sekarang tinggal di rumah kakakku pun beliau tidak lolos dari kewajiban jadi ketua RT. Iyalah...biar pun maunya istirahat dari segala kegiatan, tapi toh dipasrahin tanggungjawab mulia ini, beliau tak bisa menolak. Pensiun sejak tahun 1995, dengan kerja sebagai guru, kepala sekolah selama 40 tahun, tentu saja banyak makan asam garam soal memimpin. Kesabaran bapak masih harus diuji sampai sekarang. Tak ada gaji sebagai pemimpin kampung, tapi penghargaan dan respek sudah membuat beliau senang. Kesabaran yg ia latih sejak 40 tahun lalu saat mengajar murid2 Grafika, di mana sebagian besar murid dari kalangan miskin. Jadi tak mengherankan kalo tiap kali ada telpon dari kantor polisi, bahwa anak2 didiknya ada yg mencuri atau terlibat perkelahian. Sabar dan streng, kombinasi yg membuat beliau dihormati dan dicintai para muridnya. Di mana-mana sering di sapa, oleh sopir taksi, guru, pegawai kantor, siapapun yg mengaku mantan muridnya, sampai saat ini. Sapaan2 itu sudah buat bapak bangga. Murid tak hanya diajar dengan teori dari buku, tapi budi pekerti juga harus ditanamkan sejak dini.
Bapak, orang sederhana yg mandiri. Sempat dikirim pemerintah belajar ke Belanda tahun tujuhpuluhan selama setahun, karena ia mau dan mampu untuk belajar bidang grafika. Dengan pesangon dari seorang Pastur berkebangsaan Belanda, berupa uang dan kursus bahasa Belanda tentu saja, beliau bisa berangkat magang.
Dengan bekal ilmu dan kesabaran, bapak memimpin murid2 sekolah, memimpin warga, memimpin anak dan cucu, tanpa minta imbalan. Bisakah aku meniru jejaknya ?

3 Comments:

  • What a great site » »

    By Anonymous Anonymous, at 6:02 AM  

  • This comment has been removed by a blog administrator.

    By Anonymous Anonymous, at 7:49 PM  

  • This comment has been removed by a blog administrator.

    By Anonymous Anonymous, at 11:46 PM  

Post a Comment

<< Home